Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Lembah Long Ba : Tegaknya Diagnosa

Part 7. Tegaknya Diagnosa Sekali lagi dokter Andi melihat gawainya. Meski berdebar layaknya menunggu putusan pengadilan, tapi aku sedikit tenang, setidaknya sakitku terdefinisikan. Bukan sakit karena sesuatu yang tak masuk akal. "Pak Tegar, sakit malaria, " ujar dokter Andi. "Serius Dok, hanya malaria bukan yang lain? " tanyaku hampir tak percaya. "Iya… dan ini diperkuat hasil pemeriksaan darah. Untung kemarin itu ada heli mampir sini jadi bisa nitip sampel darah ke kota. " "Tapi Dok… ? " Dokter yang ramah ini tersenyum semakin lebar. "Kenapa? Takut karena ada sesuatu? Nggak percaya hasil pemeriksaan medis? " Aku tersipu, beberapa hari di balai pengobatan ini membuat kami semakin akrab karena perasaan sesama pendatang. "Bukan, kok berat banget ya, saya merasa hampir koit, " ujarku seraya tertawa. "Memang, si Plasmodium yang berada pada stadium aseksual membuat inangnya tak berdaya. Beruntung cepat dibawa kesini kalau ngg...

Lembah Long Ba : Menunggu

Part 6. Menunggu Tinggal sedikit lagi tubuhku lenyap dihisap bayangan hitam itu, seketika aku teringat gambaran Dementors, sebuah roh jahat yang hanya bisa dikalahkan oleh mantra expecto patronum nya Harry Potter dari gurunya Remus Lupin. Lalu cahaya putih menghalangi makhluk itu sehingga tidak bisa menyentuhku. Setelahnya, di dadaku terasa ada yang menyentuh, agak keras namun dingin rasanya. Tiba-tiba aku seperti mendapat suntikan energi, hingga akhirnya bisa membuka mata. Yang pertama tertangkap mata adalah ruangan berdinding putih. Aku berada di sebuah ranjang beralas warna putih juga. Tanganku tak bisa digerakkan, ternyata ada sebuah selang dan jarum menancap di dekat pergelangan tanganku. Belum sempat kuedarkan pandang menyapu seluruh ruangan, Bapak kepala kampung mendekat. "Pak Tegar… . " Disebutnya namaku pelan. Aku hanya bisa mengangguk pelan. "Syukur Alhamdulillah Pak Tegar sudah siuman, " sambung Pak Jauri. Rupanya mereka yang membawaku ketempat ini. Semac...

Lembah Long Ba : Sakit

Part 5. Sakit Seketika langkahku terhenti, kutarik tangan Simpai dan memberanikan diri melihat ke belakang. Sebatang pohon tumbang, sesaat ketika kami baru saja melintasinya. Berulang kali kuucap hamdalah, karena pohon itu tidak menimpaku. Tak sempat lagi kupikirkan mengapa pohon itu tiba-tiba tumbang begitu saja, padahal tak ada angin kencang. Setengah berlari segera kami menyusul Bapak Simpai menuju jalan setapak keluar hutan. *** Sepekan sejak keluar dari hutan aku merasakan keanehan pada tubuhku, tiba - tiba meriang tak karuan. Rasanya semakin tak enak, nafsu makan berkurang hingga tubuhku semakin lemas. Lalu demam tinggi menyerangku, nafasku jadi sesak, dada seperti ditimpa beban berat dan tenggorokan seperti dicekik. Tak ada yang bisa kulakukan. Bahkan memanggil Simpai pun aku tak sanggup. Suaraku tercekat di tenggorokan. Tiga hari hanya bisa tergolek lemas di tempat tidur bahkan perutku pun terasa panas, mual dan muntah terus menerus. Ibu Simpai datang memberiku ramuan dan menya...

Lembah Long Ba : Kuburan Kuno di Tepi Hutan

Part 4. Makam Kuno di Tepi Hutan Meski tubuhku bergetar hebat, kuusahakan memberi sikap hormat. Bibir lelaki itu komat kamit tapi tak kudengar sedikitpun suara. Tatapan matanya yang tajam tak lepas dariku. Aku menunduk, dan tetap dalam posisi semula sampai menarik napas pun aku takut. Tak lama Simpai menghampiri kami sehingga suasana kaku sedikit cair. Segaris senyum tiba-tiba kulihat dari bibir lelaki itu, hatiku sedikit tenang. "Maaf Pak, saya Tegar guru baru di SD Long Ba ini. " Kucoba memperkenalkan diri. "Iya, saya tahu. Kepala kampung sudah membicarakan denganku sebelum kedatangan Pak. Tegar ke sini. Selamat bertugas di desa kami. Titip anak-anak, didik dengan benar dan jangan sampai merusak lingkungan. " Tutur kata lelaki itu tegas namun cukup menenangkan dan seketika bayangan wajah garangnya lenyap, tapi wibawanya keluar. Yanse Yele Mangi, demikian nama yang kudengar setelah aku memperkenalkan diri. Seorang pemangku adat, orang yang paling dituakan setelah k...

Lembah Long Ba : Lelaki Berkalung Siung Harimau

Part 3. Lelaki Berkalung Siung Harimau Auuuugh… ! Aku ambruk tanpa sempat menggapai apapun untuk menahan berat badanku. Rasa sakit segera menjalar ketika tubuhku menimpa benda yang ada di bawahku. Sialnya malam begitu gulita benar. "Pak Tegar… . " Suara Simpai terdengar. Aku berusaha bangkit setelah sedikit menguasai keadaan. Rupanya meja yang kutabrak barusan. Mengapa berada tepat di depan pintu kamar, padahal tadinya kuletakkan dekat pintu keluar? "Kenapa mejanya jadi ada disini? " tanyaku pada Simpai. "Eh iya, maaf Pak. Saya geser meja biar tempat buat tidur jadi lebih luas. Juga biar gampang kalau harus keluar rumah, " jawab Simpai sambil menyalakan lentera. "Bapak ada yang luka? " "Sudah, nggak apa-apa. Geser sedikit ke samping pintu kan bisa, " jawabku lalu beranjak balik ke kamar. "Jangan lupa, matikan lagi lenteranya, takut jatuh dan jadi kebakaran. " Malam pun berlalu dengan tenang, tapi bukan tak terjadi apa - apa. ...

Lembah Long Ba : Pemuda Tanggung

Part. 2 Pemuda Tanggung Selepas sholat subuh, kembali kurebahkan tubuhku di kasur dan bergelung dengan selimut yang menutup tubuhku rapat-rapat. Udara pagi hampir-hampir menembus semua pori-poriku. Letak lembah di sekitar pegunungan yang masih terjaga kelestariannya karena masih masuk dalam kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang, menjadikan malam hingga pagi terasa dingin sekali. Tak terasa aku pun terlelap lagi beberapa menit hingga remang cahaya matahari masuk ke kamar. Bergegas aku bangun dan turun dari tempat tidur. Srek… kakiku menginjak sesuatu. Sesaat mataku menangkap beberapa daun kering di lantai kamarku. Kutebarkan pandangan ke sekeliling kamar, woah daun-daun kering berserakan entah dari mana. Padahal semua pintu dan jendela masih tertutup rapat. Bahkan, semalam aku tak merasakan adanya angin kencang. Segera kusapu dedaunan itu dan kubuang begitu saja di halaman. Meski aneh aku tak ingin memikirkannya. Kesibukan mengajar, sejenak mengalihkan perasaan ganjilku. Sampai malam...

Lembah Long Ba: Suara-Suara di Malam Pertama

Part. 1 : Suara-Suara di Malam Pertama Tiiiiing..., suara lentingan yang tak keras namun cukup panjang membuat tidurku sedikit terganggu. Setelah berulang, akhirnya tidurku benar-benar terganggu. Kubuka mata dan memaksimalkan pupil mendeteksi cahaya, nihil. Yang ada hanya gulita semata. Listrik yang hanya menyala 8 jam dalam sehari dari pukul 18.00-00.00 membuatku berkeyakinan saat ini sudah dinihari. Kuraba-raba sekitarku untuk mencari gawai pun percuma, karena setelah sekian menit tak kutemukan juga. Aku terlalu lelah sekian hari dalam perjalanan hingga ketika sampai tempat ini sore tadi, setelah berbagai acara seremonial langsung kurebahkan badan di kamar rumah dinasku. Akhirnya suara itu hilang tapi tak seberapa lama suara gonggongan anjing bersahut-sahutan. Kututup kupingku dengan batal, biarlah mereka beradu vokal, aku masih mengantuk dan ingin tidur lebih lama lagi. Wajar saja, selain warga yang rata-rata punya anjing, hutan belantara tak jauh dari desa ini pun pasti banyak anj...

Hati yang Tertawan

Secangkir kopi dalam gelas putih polos itu masih mengepulkan asap. Pagi dingin selepas hujan deras semalam yang masih menyisakan rintik kecil mengurangi kepulan asap kopi lebih cepat. Tatapan matanya masih terpaku pada kumpulan tanaman anggrek dengan bunga kekuningan yang menikmati guyuran hujan, dari beberapa pot yang ada di rak bunga, hanya tersisa beberapa saja. Entah sudah berapa lama tangannya tak telaten lagi mengurus tanaman itu.  Tiba-tiba senyum manis itu melintas dalam ingatannya. Senyum manis dari seseorang yang dulu begitu dipujanya. Namun di sudut hati terdalam menjadi nyeri tak terkira.  Sebuah sentuhan lembut menyadarkan lamunannya. Tangan - tangan kecil memeluknya erat dari belakang.  "Bunda  … ,"sapaan lembut menghampiri telinganya.  "Wah sudah bangun anak bunda," serunya seraya menarik pelan tubuh mungil itu ke pangkuannya. Kebiasaan si bungsu itu selalu meminta atau memberi pelukan kala bangun dari tidurnya.  Sisa pagi itu dinikmati Ranti...

Jangan Panggil Aku Ibu

Tentu saja, aku mengenal sosok itu. Perempuan lugu itu sebenarnya cantik juga, hanya saja terik matahari membuat kulitnya menjadi legam, kulitnya agak kasar dan wajah polos tanpa sapuan make up itu menjadi tabir wajah cantiknya. Namun, tampilan sederhana itu tak sesederhana kepribadiannya. Sorot matanya melancarkan kasih sayangnya. Dengan telaten ia menjaga dan merawatku. Menyeka tubuh, membuang kotoran juga menyiapkan obat serta makananku. Sungguh kehadirannya sama sekali tak kuharapkan, namun siapa lagi yang bisa merawatku setiap hari di rumah sakit ini, suamiku harus bekerja sementara kedua anak lelakiku sedang kuliah di luar kota. Rasa tak nyaman tertutup oleh kebutuhanku. "Tante mau distelin tivi? " Tanyanya lembut. Sejak dulu ia memanggilku tante, aku yang memintanya. Semua orang mengenalnya sebagai anak dari sepupu jauhku. Dan aku sendiri tak punya ponakan karena anak tunggal. Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, suami dan dokter yang menanganiku tiba. Visit dokte...

Yang Tak Bisa Kuubah

Setelan sekian lama menyimpan rasa dengan rapi lalu rasa itu terajut menjadi nyata, senang sekali bukan?  Kupandang kertas putih yang baru saja kukeluarkan dari amplop coklat. Jantungku berdebar kencang dan serasa hampir meledak ketika sebaris nama tertangkap mataku. Aku hampir tak mempercayai penglihatanku. Ya Allah, benarkah ini. Sungguh rasa yang absurd sekali.  Setelah sekian lama, tak ada yang tahu. Hanya dinginnya lantai kamarku yang jadi saksi bisu kala nama itu kusebut dalam doaku. Semua tersimpan rapi, bahkan pada sahabat terdekat ku. Kamal Abdurrahman, sebuah nama yang kukenal ketiga aku bergabung dalam organisasi dakwah kampus. Dialah sang ketua. Entah sejak kapan aku menyimpan simpatiku, tak kusadari hampir setahun berinteraksi meski terbatas urusan kegiatan kampus rasa suka itu mulai bersemi. Hingga kini ketika aku hampir meletakkan jabatanku sebagai sekretaris.  Ya, kesibukan mengerjakan tugas akhir dan masa bakti dua tahun berturut-turut sudah cukup bagiku ...

Tragedi Atap Rumah, Kematian Bayi-Bayi

Tubuhnya kian tambun, terutama di bagian perut bukan karena banyak makan tapi janin yang dikandungnya kian membesar. Gerakannya juga menjadi semakin lambat, tak selincah dulu. Padahal ia harus tetap mencari makan sendiri.  Tak ada yang bisa diharapkan pada kondisi seperti ini.  Kadang atas kemurahan para tetangga yang tak tega melihatnya, ia mendapat sedikit makanan. Cukup untuk mengganjal perut dan meredakan gerakan janin yang dikandungnya. Entahlah, ia pun tak tahu ada berapa banyak bayi dalam perutnya. Yang jelas kian hari kian membesar saja. Dan disaat mendekati hari kelahiran, didapatinya sebuah emperan rumah. Untuk sementara cukup menjadi tempat berlindung, meski lebih sering pemilik rumah mengusirnya karena tak berkenan. Mau bagaimana lagi? Ia tak tahu harus kemana mencari tempat yang aman bagi janin-janin yang akan dilahirkannya nanti. Seringkali ia menyelinap masuk ke dalam rumah mengharap ada sedikit makanan yang bisa diambilnya, tapi lebih sering ketahuan sehingga ...

Perempuan Berwajah Oval

Perempuan dengan wajah oval itu melintas di hadapanku. Senyumnya mengembang serupa gula-gula, manis. Hatiku seketika berdesir, pantas saja. Raut wajah sempurna, bersih dengan mata bulannya yang bercahaya, alis yang tidak terlalu tebal juga tida tipis memagarinya, ditambah lentiknya bulu mata. Sempurna.  Aku berpaling setelahnya. Segera ku gapai gagang pintu menuju rumah, lalu masuk dan menutupnya erat. Dadaku kian gemuruh, hingga separuh energiku luruh. Tubuhku merosot hingga terduduk di lantai. Huh, pantas saja. Wanita itu begitu cantik, tak sebanding dengan diriku. Bahkan jauh sekali.  Sepanjang hidupku tak pernah satu pun yang mengatakan aku cantik, ya memang nggak cantik, meski tak pernah juga ada yang mengatakan jelek. Namun setiap aku berkaca, sungguh pantulan cermin itu bukan yang ku harapkan. Aku ingin wajahku putih bersih, namun cermin itu mengambarkan wajah kusam dan berbintik. Aku mengharapkan hidungku sedikit mancung, namun cermin itu menunjukan hidungku yang pesek...

Bulan Purnama Penuh

Bulan penuh menghias langit malam ini, kunikmati dinginnya sisa-sisa hujan sore tadi di awal September tahun ini. Seperti September ceria yang tak sengaja ku dengan barusan. Ah semoga saja, harapku. Dan keputusan ini sudah bulat. Setelah sebulan lebih menimbang dan berpikir, tak lupa istikhoroh di malam- malam sunyiku, semakin menguatkan langkahku. Aku ingin membebaskan diri dari kesemuan ini.  Bahkan selarut ini, dia belum pulang, entah dimana malam-malamnya selalu dihabiskan. Terlebih setelah tinggal dirumah sendiri, dalam sepekan hanya tiga malam dia ada di rumah sebelum waktu sholat Isya datang.  Mungkin semuak itukah dia padaku, hingga bertemu muka pun sudah tak nyaman baginya. Lagian, salahku juga, mengapa harus bertahan sejauh ini. Setahun bukan waktu yang sedikit untuk bersama orang yang tak sedikitpun punya rasa cinta padaku. Bukan seperti cerita film atau novel benci jadi cinta. Semua sama sejak awal hingga hari ini, tak akan ada yang bisa dirubah....

Dua Sisi Hati

Www.goggle.com Ku bolak balik undangan berwarna biru muda bergambar mawar merekah, sederhana namun menawan. Hanya berisi beberapa tulisan: nama pengantin, hari dan tanggal serta jam resepsi pernikahannya juga tempat acara. Hanya itu, tanpa petikan ayat Qur'an atau hadist juga kata-kata mutiara.  Dua nama serta inisial nama depan, tertulis dengan huruf indah terlihat lebih mencolok dibanding tulisan lainnya.  Sebuah nama, aku sangat mengenalnya, nama sahabatku yang telah sekian purnama ada dalam doaku. Doa agar Allah segerakan pertemuan dengan jodohnya diusia yang sudah selayaknya. Sementara nama yang satunya lagi, tak kutahu pasti, terlebih banyak laki-laki yang mempunyai nama seperti itu. Juga di lingkaran pertemananku, banyak yang bernama depan itu.  Hatiku berirama riang, sejak sehari kemarin sudah kusiapkan kado yang kupikir terbaik yang mampu kuberikan. Kubungkus dengan kertas biru muda dan pita kuning menyala. Aku memutuskan untuk datang bersama anak...