Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Tazkiyatun nafs

Malam Ramadhan

Keajaiban Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan kita sudah masuk etape ketiga, sepuluh malam yang terakhir. Saatnya kita bersiap mengisinya lebih tekun lagi dalam beribadah, karena moment tidak tidak lama lagi. Hanya sepuluh hari bahkan bisa jadi kurang karena usia ramadhan itu 29 hari hanya apabila hilal tidak terlihat digenapkan menjadi 30 hari.  Dan tamu agung ini, akan segera pergi. Alangkah indahnya, jika kita tidak dapat menyambutnya dengan baik diawal kedatangannya, saatnya kita memberi kesan yang mendalam saat akan berpisah dengannya. Kesan yang penuh makna dengan memanfaatkan setiap detiknya untuk kebaikan dan ibadah kepada Allah Ta'ala.  Agar perpisahan ini meninggalkan kesan yang dalam maka kini saatnya: Kencangkan Ikat Pinggang Mengencangkan ikat pinggang  bermakna kita melakukan ibadah lebih keras lagi, lebih dari biasanya. Meninggalkan hal-hal yang menganggu ibadah kita. Mengurangi makan yang menyebabkan kekeyangan sehingga mudah ngantuk dan tidak maksima...

Memelihara Semangat

Melihara Semangat Suatu ketika, dalam sebuah taklim saya mendapat pertanyaan salah satu peserta taklim. Pertanyaan yang sudah biasa saya dengar.  "Mengapa ya kalau kita habis pengajian jadi semangat, semangat berbuat baik, semangat beribadah. Tapi setelah agak lama kembali lesu lagi? " Apakah hal ini wajar? Wajar banget. Bahkan di masa lalu, sahabat pun pernah merasakan. Saat itu sedang Rasulullah SAW sedang ada majelis, lalu sahabat berkata, bahwa jika bersama Rasulullah iman mereka sungguh kuat dan jika telah jauh dari Rasulullah seolah - olah mereka futur.  Karena Iman pada diri manusia itu ibarat gelombang, kadang naik kadang turun.  Dan itu sangat berpengaruh terhadap semangat ibadah kita. Saat iman kita sedang tinggi kita tentu akan semangat beribadah. Jangankan yang wajib, yang sunnah pun dilibas habis.  Namun saat iman kita turun, satu persatu sunnah kita tinggalkan. Awalnya Qiyamul lain, kemudian dhuha kemudian dan seterusnya hingga ...

Sejarah Belum Berakhir

Sepengal kalimat pendek sahabatku ini sungguh menginspirasiku.  "......sejarah kita belum usai. " Kalimat pendek ini setidaknya sedikit membuatku tidak reaktif menanggapi atau mengomentari sebuah peristiwa atau kejadian terutama yang sedang viral.  Apalagi, beberapa pengalaman hidup mengajarkan bahwa, selagi hayat kita belum berakhir, sejarah masih kita ukir. Seperti apa akhir sejarah hidup kita. Sungguh tak satupun yang tahu.  Selagi kita masih mengumpulkan kepingan-kepingan sejarah kita, Berhati-hatilah dalam mengomentari sejarah orang lain. Berhati-hatilah dalam bersikap. Bisa jadi seseorang yang dimasa lalunya punya sejarah kelam, pada akhirnya mengukir sejarah gilang gemilang, pun sebaliknya.  Dulu, disaat Ibu - Bapakku masih hidup dalam kesusahan, Allah menguji dengan meninggalnya simbah kakung. Lalu Bapak pergi ke tetangga yang mempunyai toko kelontong terlengkap salah satunya juga menyediakan perlengkapan fard...

Pelajaran Sederhana dari Orang Sederhana

Di pasar tadi pagi. "Daun singkong berapa seikat Bu? " tanyaku "Lima ribu dua ikat. " jawab ibu tua penjual. Tak banyak yang dijual, hanya beberapa ikat daun singkong, kancang panjang dan sesisir pisang. Kulihat ada juga daun singkong di lapak besar, tapi aku sengaja membeli sayuran di lapak-lapak sederhana yang isi dagangannya tidak banyak, apalagi jika penjualnya sudah agak tua. Menurutku mereka benar-benar berjualan untuk makan sehari-hari, dan tidak banyak untung yang didapatnya. "Baik Bu, saya ambil 1 ikat saja, karena tidak masak banyak, dirumah kami hanya tinggal 3 orang saja, berapa kalau 1 ikat?" "Seikat 3 ribu." Kuangsurkan uang senilai 4 ribu rupiah, karena disini uang seribuan agak susah dijumpai. Andaipun nanti tidak ada kembaliannya, susah ku ikhlaskan saja seikat daun singkong itu seharga 4 ribu rupiah. Kulihat, ibu penjual itu menyiapkan kembalian. Maka sambil menunggunya, kulihat sesisir pisang raja yang ranum dan berapa ...

Rezekiku Tak Kan Tertukar

Di Jum'at siang yang terik tadi, seseorang meluncur dari pusat kota Nunukan ke arah Sedadap yang jaraknya berkisar 17 km mengunakan kendaraan umum berupa angkutan kota (angkot). Sopir angkot ini anak muda berkisar 20 an tahun, sedangkan penumpang angkot itu hanya 3 orang. Saat sampai di jalanan lurus kira-kira 11 km dari pusat kota, maklum jalan di kota ini berkelok-kelok meski bukan pegunungan, terlihat di depan beberapa angkot berhenti sejenak lalu pergi lagi meninggalkan calon penumpang, seorang Ibu dengan 3 orang anak. Akhirnya, angkot dengan 3 penumpang tadi sampai di tempat si Ibu tadi dan berhenti. "Apakah lewat Jalan Baru? " tanya si Ibu "Iya Bu, " jawab si sopir angkot. Alih-alih segera naik, si Ibu itu tetap diam mematung. "Ada apa Bu? " tanya sopir angkot lagi. Ragu si Ibu itu menjawab, "Tapi saya tidak punya uang buat membayar ongkos saya dan 3 anak saya ini, " jawab Ibu itu akhirnya. "Ayolah Bu, tak mengapa. N...

Cinta Diri

Mencintai diri sendiri itu bukan hanya memberinya pakaian yg indah sehingga nampak keren di mata orang lain, tetapi menutupnya dari pandangan orang-orang yang tidak berhak memandangnya dengan baik dan benar sesuai tuntunan syariah karena diri ini seindah-indahnya ciptaan Allah. Mencintai diri sendiri itu bukan sekedar merawatnya dengan aneka perawatan dan menghias dengan aksesoris mahal nan menawan, tetapi menghiasinya dengan taqwa tunduk pada perintah Allah dan takut pada larangannya. Mencintai diri sendiri bukan sekedar memberinya makan agar terhindar dari kelaparan, tetapi juga menjaga makanan yang masuk ke tubuh kita dari yg haram dan syubhat karena akan menjadi darah dan daging kita. Memberinya asupan bergizi berupa ilmu yang baik. Mencintai diri sendiri bukan sekedar  mengikuti pergaulan agar tetap eksis di mata manusia tetapi juga selalu mengupdate ruhiyah kita dengan ibadah yang mendekatkan diri pada sang Maha Pencinta Mencintai diri menjadikan diri ini...