Langsung ke konten utama

Sastra dan Pelajaran Favorit di Sekolah


Buku-buku sastra akan jadi bacaan di sekolah, demikian reaksi para pengiat literasi ketika membaca berita bahwa sastra akan masuk kurikulum. Dalam rangka mengimplementasikan kurikulum merdeka, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) mendorong pemanfaatan sastra sebagai sumber belajar. Hal ini dikemukakan oleh Kepala Standar Badan Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Anindito Aditomo dalam peringatan Hari Buku Nasional 2024.

Karya sastra akan menjadi salah satu sumber belajar yang diharapkan dapat meningkatkan minat baca, mendorong berpikir kritis, dan mengasah kreatifitas. Jadi kebayang kan novel-novel sastra jadi bacaan siswa di sekolah. Ikut senang dengar berita ini, meski tak luput dari kritik dan kekurangan sih.

Baru-baru ini seorang Budayawan, Nirwan Dewanto membuat surat terbuka yang intinya keberatan dengan buku panduan sastra masuk kurikulum. Termasuk buku puisinya yang dijadikan rujukan, dan masuk daftar bacaan atau buku-buku yang direkomendasikan dalam pembelajaran sastra nantinya. Menurutnya, sastra masuk kurikulum tidak serta merta memberi rujukan buku-buku sastra yang akan dijadikan materi pembelajaran. Perlu kajian lebih dalam lagi, sebab pembelajaran sastra sejatinya adalah membuka wacana berpikir siswa agar bisa mengemukakan pikiran baik secara lisan maupun tulisan.

Lebih jauh budayawan tersebut menyatakan bahwa buku-buku yang direkomendasikan harusnya melalui proses kurasi yang ketat terlebih dahulu dengan melibatkan orang-orang yang kompeten dan merdeka. Hal senada juga dikemukakan oleh wakil ketua bidang sastra Dewan Kesenian Jakarta Hasan Aspahani ( Btw saya pernah ikut webinar dengan narasumber beliau ini… hehehe pengumuman)––buku panduan yang merujuk pada 177 buku rekomendasi itu memudahkan siswa mencarinya,tapi juga memunculkan pertanyaan standar kurasinya.

Baiklah, terlepas dari gonjang-ganjing itu, setidaknya ada usaha agar anak-anak membaca buku.

Karya sastra dalam Pengalaman Kebahasaanku


Pada malam itulah Hanafi baharu dapat 'mengulak' utangnya kepada ibunya, yaitu utang, yang kira-kira belum akan langsai terbayar meskipun ia memperbuat mahligai tinggi bagi ibunya itu. Hanafi mengakulah sekarang bahwa ibunya bukan orang bodoh oleh karena itu makin timbullah adab dan cinta kepada orang tua itu sebab selamanya itu ibunya hanya memperturutkan saja segala kehendaknya dengan tidak melakukan kekerasan sekali juga.

Corrie - oh, sesungguhnya banyak benarlah yang menyakitkan hatinya ditimbulkan oleh Corrie. Terutama sekali kata-katanya pada hari perceraian. Bukanlah dengan terus terang ia menyatakan sesalnya 'karena sudah membuang diri, menurutkan orang Melayu: Bukanlah rendah sekali penghinaan yang serupa hendak melekatkan tanganlah ia kepada perempuan yang menghinakannya itu. Tapi ... sebalik lagi. Apakah ia, Hanafi, tidak turut bersalah? Tidak mulai bersalah? Ya, jika dipikir-pikirannya, kesalahan Corrie belum berapa, salahnya ialah karena si suami yang celaka mulai memperbuat kesalahan besar. Sungguh besar cinta Corrie dahulu kepadanya, tapi sekarang-dua helai surat Hanafi' dikirimkannya kembali dengan tidak dibuka dibacanya!


(Salah Asuhan, Abdoel Moeis Tahun 1928)

Ayo siapa yang pernah membaca cuplikan novel di atas? Yap, bagi generasi lama macam saya, cuplikan-cuplikan karya sastra penulis terdahulu baik angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 50 maupun angkatan 66 kerap hadir pada buku pelajaran Bahasa Indonesia. Membaca cuplikan karya sastra pada buku Bahasa Indonesia ini selalu menyenangkan. Selalu membuat penasaran ingin membaca seluruhnya. Sayang, zaman itu di kampungku masih buku bacaan masih sangat langka. Dari cuplikan karya sastra inilah, saya jatuh cinta pada pelajaran Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia Pelajaran Favorit


Ya, pelajaran Bahasa Indonesia adalah pelajaran paling saya sukai waktu sekolah. Saya akan antusias berangkat ke sekolah jika hari itu ada pelajaran Bahasa Indonesia. Saya merasa mudah sekali menguasai Bahasa Indonesia bahkan sebelum guru menyampaikan di sekolah. Bahkan materi-materi pelajaran Bahasa Indonesia itu sudah saya baca sebelum waktunya, bukan karena kerajinan, tapi di rumah banyak buku materi pelajaran Bahasa Indonesia. Bapak saya guru Bahasa Indonesia.

Namun, bukan itu alasan utama saya suka pelajaran Bahasa Indonesia. Alasan terkuatnya karena pada pelajaran Bahasa Indonesia terutama kesusastraan, saya menemukan cuplikan-cuplikan cerita pendek, novel, pantun, dan puisi. Buku pelajaran Bahasa Indonesia zaman saya sekolah menyajikan banyak cuplikan-cuplikan novel atau cerita pendek kemudian diminta untuk menganalisis. Saya paling suka bagian ini. Apalagi buku bacaan di kala itu masih sangat langka di kampung, tempat tinggal saya.

Kesukaan saya pada pelajaran Bahasa Indonesia selalu menorehkan nilai yang cemerlang baik di sekolah menengah pertama maupun atas. Rasanya tanpa belajar keras pun, nilai 9 selalu nangkring di raport. Bangga rasanya, masih ada yang bidang yang bernilai lebih dibalik prestasi saya yang biasa-biasa saja. Tentu saja, beda dengan adik-adik yang selalu unggul pada pelajaran Matematika dan IPA bahkan selalu ranking satu dan mewakili sekolah lomba bidang studi Matematika IPA.

Sementara saya, hanya bisa unggul pada pelajaran Bahasa Indonesia. Satu-satunya lomba yang bisa saya ikuti saat masa sekolah hanyalah lomba mengarang dan baca puisi. Syukurlah, meski bukan di bidang yang membanggakan, masih bisa mewakili sekolah ikut lomba. Tidak menang juga, tapi menyenangkan.

Suka tapi Tidak Ditekuni


Meski suka, tak lantas pelajaran satu ini saya tekuni. Saat itu pengetahuan masih terbatas sehingga arahan untuk memilih bidang studi lanjutkan juga kurang terfasilitasi. Harusnya kita meninggikan gunung, bukan menimbun lembah supaya lebih tinggi. Harusnya menonjolkan kelebihan dengan mentoring dan coaching, bukan meninggikan lembah dengan les dan kursus.

Pemikiran bahwa belajar Bahasa Indonesia hanya berakhir menjadi guru, membuat saya memutar haluan. Apalagi ketika SMP saya jatuh cinta pada pelajaran IPA khususnya Biologi. Sampai akhirnya di SMA pun saya lebih memilih biologi sebagai pelajaran favorit dan duduk manis sebagai siswa jurusan Biologi. Dari Biologi inilah saya berharap bisa menjadi jembatan meraih cita-cita, dan itu bukan untuk menjadi guru. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari 1 Januari 2020

Sejatinya setiap hari adalah hari baru karena hari adalah satuan waktu, dimana jika sudah berlalu tidak akan surut atau kembali lagi. Pun hari ini yang merupakan awal hari di dalam kalender baru tahun 2020, meski namanya dan momentnya sama seperti tahun sebelumnya, dengan perayaan dan tradisi yang sama,  penuh gegap gempita. Bahkan angkanya dalam sama setiap bulan dan mananya berulang tiap pekan sekali. Kita telah melewati hari-hari kemarin dengan segala pernak-pernik peristiwa dan kenangan yang mungkin tak akan terlupa. Apapun itu, semoga menjadi pelajaran berharga dalam menjalani hari-hari yang akan datang. Dan hari ini, saat fajar menyingsing tadi pagi, udara pagi hari baru, meniupkan semangat agar hari-hari kedepan lebih baik lagi. Ada banyak pelajaran berharga hari ini, diawali dengan krisis air bersih di kota kami. Sejak berhari lalu, rasa tak nyaman menyelimuti, bahkan atmosfir emosi negatif susah untuk dihindari. Tensi ketersinggungan dan kemarahan menjadi lebih ting...

Cinta Diri

Mencintai diri sendiri itu bukan hanya memberinya pakaian yg indah sehingga nampak keren di mata orang lain, tetapi menutupnya dari pandangan orang-orang yang tidak berhak memandangnya dengan baik dan benar sesuai tuntunan syariah karena diri ini seindah-indahnya ciptaan Allah. Mencintai diri sendiri itu bukan sekedar merawatnya dengan aneka perawatan dan menghias dengan aksesoris mahal nan menawan, tetapi menghiasinya dengan taqwa tunduk pada perintah Allah dan takut pada larangannya. Mencintai diri sendiri bukan sekedar memberinya makan agar terhindar dari kelaparan, tetapi juga menjaga makanan yang masuk ke tubuh kita dari yg haram dan syubhat karena akan menjadi darah dan daging kita. Memberinya asupan bergizi berupa ilmu yang baik. Mencintai diri sendiri bukan sekedar  mengikuti pergaulan agar tetap eksis di mata manusia tetapi juga selalu mengupdate ruhiyah kita dengan ibadah yang mendekatkan diri pada sang Maha Pencinta Mencintai diri menjadikan diri ini...

Fitrah Kebaikan

Www.goggle.com Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama(Islam) ;(sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." ( Qs Ar Ruum : 30) Pada suatu seminar parenting berbasis fitrah, dengan narasumber Bpk. Harry Santosa. Beliau bertanya," Lebih sulit mana mendidik anak menjadi baik atau menjadi nakal?" Mayoritas peserta termasuk saya menjawab : "Menjadi baik." Logika sederhana, kalau mau anak baik kita mesti kerja keras, kalau mau anak nakal ya kan gampang aja. Di ajari jadi baik saja masih banyak yang nakal kok. Tapi, ketika kembali pada hati nurani, kita akan berkata lain dan jika merujuk Qur'an sebagai pedoman hidup, kita akan menemukan dalil bahwa setiap anak itu diciptakan dalam kondisi baik. Sudah baik dari sananya lho...sejak terlahir fitrah anak itu baik,  iya kan ya.....!  Tida...