Langsung ke konten utama

Duhai Hati


Duhai hati
Sampai kapan rasa kan menepi
Hingga terus menjadi muara iri
Seperti diinkari
Namun sejatinya tetap terpatri
Terlalu sulitkan untuk melepaskan pergi

Duhai hati
Tak sadarkah diri, darimu lisan ini terus berbunyi
Mengosip
Menghibah
Mencela
Memaki

Duhai hati,
Yang hanya segumpal daging
Menjadi baik atau buruk hanya itu pilihanmu
Karena baiknya, akan membawa keselamatanmu
Sedangkan buruknya akan merusakmu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari 1 Januari 2020

Sejatinya setiap hari adalah hari baru karena hari adalah satuan waktu, dimana jika sudah berlalu tidak akan surut atau kembali lagi. Pun hari ini yang merupakan awal hari di dalam kalender baru tahun 2020, meski namanya dan momentnya sama seperti tahun sebelumnya, dengan perayaan dan tradisi yang sama,  penuh gegap gempita. Bahkan angkanya dalam sama setiap bulan dan mananya berulang tiap pekan sekali. Kita telah melewati hari-hari kemarin dengan segala pernak-pernik peristiwa dan kenangan yang mungkin tak akan terlupa. Apapun itu, semoga menjadi pelajaran berharga dalam menjalani hari-hari yang akan datang. Dan hari ini, saat fajar menyingsing tadi pagi, udara pagi hari baru, meniupkan semangat agar hari-hari kedepan lebih baik lagi. Ada banyak pelajaran berharga hari ini, diawali dengan krisis air bersih di kota kami. Sejak berhari lalu, rasa tak nyaman menyelimuti, bahkan atmosfir emosi negatif susah untuk dihindari. Tensi ketersinggungan dan kemarahan menjadi lebih ting...

Ke Baitullah

Part 5 Berkah dari Kesalahan Karena keberangkatan umroh kita dari Jakarta, maka kami harus menuju Jakarta sebelum tanggal 23 Januari. Pagi menjelang siang di tanggal 22 Januari sampailah kita di Jakarta dan menuju Bekasi. Kami harus menjumpai Ibu yang telah terlebih dahulu dijemput adik dari Bojonegoro dan dibawa ke rumahnya di Bekasi. Bandara Sepinggan Balikpapan, para minimalis yang akan travelling. Hanya ini barang bawaan kami.  Sebelum sampai di Jakarta kami sudah meminta Adik menunjukkan rute termudah menuju rumahnya. Berdasarkan petunjuknya, kami harus naik bis damri dari Cengkareng ke Terminal Kampung Rambutan lanjut grab atau gocar ke Jati Melati. Tapi begitu di pool damri  Cengkareng, suami membeli tiket ke Bekasi kota. Tak apalah, beliau kan pernah kuliah di Jakarta semoga lebih tahu rute terdekat ke Bekasi. Nge WA adik lagi, menceritakan bahwa kita naik damri ke Bekasi. "Waduh, jauh lagi itu mah. Lewat daerah macet lagi. Karena terminalnya di Bekasi Ti...

Menjadi Ibu Adalah Pilihanku

Tulisan digambar ini mendapat apresiasi sebagai juara saat ada games pekanan di grup IIp regional kaltimtara tahun 2017 Ada yang bergolak di hati kala itu, hari dimana saya harus melapor ke kantor yang menaungi tempat saya mengajar selama ini. Saya harus melapor terkait pengunduran diri dari aktivitas mengajar agar tunjangan sertifikasi dan inpassing dihentikan pencairannya.  Bergolak bukan karena tidak akan menerima intensif lagi, bahkan gaji rutin bulanan. Bukan, tapi sebuah peryataan yang dilontarkan kawan saya.  "Setelah ini, ibu ngapain? " Tanya teman saya.  "Hanya jadi ibu rumah tangga lah Bu, " kawan teman saya yang lain.  Duh, padahal saya sudah menyiapkan jawaban akan menjadi Ibu rumah tangga yang bahagia.  Begitulah, sebagian kita mengangap ibu rumah tangga adalah predikat yang "hanya". Belum lagi perseteruan abadi antara nitizen ibu bekerja versus nitizen ibu yang tidak bekerja yang sekian lama meramaikan dunia...