Langsung ke konten utama

Postingan

Kardus Anak Kucing

A nak kucing, kembali menemukan anak kucing yang dibuang oleh seorang manusia.  Ini untuk ketiga kalinya kami menemukan anak kucing.  Sekardus Anak Kucing di Menara Masjid Kali pertama menemukan anak-anak kucing, saat masih tinggal di Nunukan. Sepulang dari mengantar anak ikut lomba MTQ di kecamatan Tulin Onsoi, yang terletak di wilayah tiga, disambut oleh anak-anak yang bermanis-manis kata. Rupanya mereka merayu agar diperbolehkan memelihara kucing. Tentu saja, ditolak mentah-mentah dong. Bundanya kan paling nggak suka memelihara hewan apapun, karena ada kotorannya. Meski dulu di masa kecil selalu akrab dengan hewan peliharaan seperti kambing, ayam dan bebek. Ada yang ngurus sih, jadi nggak perlu berkotor ria ngurus mereka. Lha ini kucing… selucu apapun, tidak berminat sama sekali.  Lalu mereka bercerita tentang kisah di balik keberadaan anak-anak kucing tersebut. Rupanya ada orang yang membuang anak kucing di dekat rumah kami. Kasihan, itu yang mendasari anak-anak menga...

Menyelam Lebih Dalam di Kelas Persiapan

Suatu aktivitas yang panjang dan memerlukan konsistensi tidak akan berhasil tanpa adanya persiapan. Demikian juga dengan keinginan untuk menulis sepanjang tahun yang difasilitasi oleh Kelas Menulis Ibu Profesional (KLIP). Meski sudah bergabung dengan KLIP selama dua tahun dan konsisten menulis sepanjang tahun, kadang masih dilanda jenuh, bahkan galau juga munculnya rasa insecure . Beruntung tahun ini KLIP memberi kejutan yang luar biasa, keren banget deh pokoknya. Kalau di tahun lalu begitu masuk KLIP langsung tancap gas menulis dan setoran bahkan dapat badge outstanding beberapa kali, di tahun ini KLIP menghadirkan kelas persiapan yang narasumber dan materinya… luar biasa. Serasa menemukan jawaban dari semua rasa yang tersimpan di sudut hati paling dalam bahwa rasa minder, membandingkan diri dengan orang lain yang ujungnya tetap merasa seperti kebanting. Menemukan Mutiara di Kelas Persiapan Kelas persiapan part satu yang diisi langsung oleh founding mother Ibu Profesional, Ibu Septi ...

Lingkungan Berkelanjutan dalam KIP

Enam hari yang penuh inspirasi, begitu gambaran mengikuti Konferensi Ibu Pembaharu dilahirkan tahun 2021 ini. Tiap hari selama enam hari ini, bertemu dengan perempuan-perempuan yang berhasil mengubah masalah dalam hidupnya menjadi tantangan hingga keluar sebagai pemenang, berdaya lalu memberdayakan dengan terus berkarya.  Ada lima tema pokok dalam konferensi kali ini Perempuan dan pemberdayaan masyarakat Ibu dan anak bahagia Perempuan di era digital Lingkungan berkelanjutan Disabilitas unggul Semuanya keren-keren, apalagi para narasumber adalah para perempuan yang mengubah tantangan menjadi solusi bagi dirinya bahkan masyarakat luas. Mau tahu kan apa dan bagaimana peran mereka menjadi bagian dari solusi itu? Simak yuk liputannya. Kali ini tema pertama dulu ya.  Perempuan dan pemberdayaan masyarakat  Hidup memang tak selalu berjalan mulus, jatuh bangun dalam ujian itu biasa. Namun jika sekali jatuh lalu tak berusaha bangkit, maka selesai sudah. Padahal perjalanan masih pan...

Lembah Long Ba : Tegaknya Diagnosa

Part 7. Tegaknya Diagnosa Sekali lagi dokter Andi melihat gawainya. Meski berdebar layaknya menunggu putusan pengadilan, tapi aku sedikit tenang, setidaknya sakitku terdefinisikan. Bukan sakit karena sesuatu yang tak masuk akal. "Pak Tegar, sakit malaria, " ujar dokter Andi. "Serius Dok, hanya malaria bukan yang lain? " tanyaku hampir tak percaya. "Iya… dan ini diperkuat hasil pemeriksaan darah. Untung kemarin itu ada heli mampir sini jadi bisa nitip sampel darah ke kota. " "Tapi Dok… ? " Dokter yang ramah ini tersenyum semakin lebar. "Kenapa? Takut karena ada sesuatu? Nggak percaya hasil pemeriksaan medis? " Aku tersipu, beberapa hari di balai pengobatan ini membuat kami semakin akrab karena perasaan sesama pendatang. "Bukan, kok berat banget ya, saya merasa hampir koit, " ujarku seraya tertawa. "Memang, si Plasmodium yang berada pada stadium aseksual membuat inangnya tak berdaya. Beruntung cepat dibawa kesini kalau ngg...

Lembah Long Ba : Menunggu

Part 6. Menunggu Tinggal sedikit lagi tubuhku lenyap dihisap bayangan hitam itu, seketika aku teringat gambaran Dementors, sebuah roh jahat yang hanya bisa dikalahkan oleh mantra expecto patronum nya Harry Potter dari gurunya Remus Lupin. Lalu cahaya putih menghalangi makhluk itu sehingga tidak bisa menyentuhku. Setelahnya, di dadaku terasa ada yang menyentuh, agak keras namun dingin rasanya. Tiba-tiba aku seperti mendapat suntikan energi, hingga akhirnya bisa membuka mata. Yang pertama tertangkap mata adalah ruangan berdinding putih. Aku berada di sebuah ranjang beralas warna putih juga. Tanganku tak bisa digerakkan, ternyata ada sebuah selang dan jarum menancap di dekat pergelangan tanganku. Belum sempat kuedarkan pandang menyapu seluruh ruangan, Bapak kepala kampung mendekat. "Pak Tegar… . " Disebutnya namaku pelan. Aku hanya bisa mengangguk pelan. "Syukur Alhamdulillah Pak Tegar sudah siuman, " sambung Pak Jauri. Rupanya mereka yang membawaku ketempat ini. Semac...

Lembah Long Ba : Sakit

Part 5. Sakit Seketika langkahku terhenti, kutarik tangan Simpai dan memberanikan diri melihat ke belakang. Sebatang pohon tumbang, sesaat ketika kami baru saja melintasinya. Berulang kali kuucap hamdalah, karena pohon itu tidak menimpaku. Tak sempat lagi kupikirkan mengapa pohon itu tiba-tiba tumbang begitu saja, padahal tak ada angin kencang. Setengah berlari segera kami menyusul Bapak Simpai menuju jalan setapak keluar hutan. *** Sepekan sejak keluar dari hutan aku merasakan keanehan pada tubuhku, tiba - tiba meriang tak karuan. Rasanya semakin tak enak, nafsu makan berkurang hingga tubuhku semakin lemas. Lalu demam tinggi menyerangku, nafasku jadi sesak, dada seperti ditimpa beban berat dan tenggorokan seperti dicekik. Tak ada yang bisa kulakukan. Bahkan memanggil Simpai pun aku tak sanggup. Suaraku tercekat di tenggorokan. Tiga hari hanya bisa tergolek lemas di tempat tidur bahkan perutku pun terasa panas, mual dan muntah terus menerus. Ibu Simpai datang memberiku ramuan dan menya...

Lembah Long Ba : Kuburan Kuno di Tepi Hutan

Part 4. Makam Kuno di Tepi Hutan Meski tubuhku bergetar hebat, kuusahakan memberi sikap hormat. Bibir lelaki itu komat kamit tapi tak kudengar sedikitpun suara. Tatapan matanya yang tajam tak lepas dariku. Aku menunduk, dan tetap dalam posisi semula sampai menarik napas pun aku takut. Tak lama Simpai menghampiri kami sehingga suasana kaku sedikit cair. Segaris senyum tiba-tiba kulihat dari bibir lelaki itu, hatiku sedikit tenang. "Maaf Pak, saya Tegar guru baru di SD Long Ba ini. " Kucoba memperkenalkan diri. "Iya, saya tahu. Kepala kampung sudah membicarakan denganku sebelum kedatangan Pak. Tegar ke sini. Selamat bertugas di desa kami. Titip anak-anak, didik dengan benar dan jangan sampai merusak lingkungan. " Tutur kata lelaki itu tegas namun cukup menenangkan dan seketika bayangan wajah garangnya lenyap, tapi wibawanya keluar. Yanse Yele Mangi, demikian nama yang kudengar setelah aku memperkenalkan diri. Seorang pemangku adat, orang yang paling dituakan setelah k...