Langsung ke konten utama

Postingan

Wabah

Di sebuah rimba raya. Di sudut sana tersiar khabar merebaknya wabah penyakit sejak berbulan lalu. Beritanya sudah sampai seantero rimba dan membuat penghuni rimba itu gempar. Begitu dahsyatnya wabah itu hingga korban terus berjatuhan. Dari hari ke hari pasien yang sakit terus bertambah, rumah sakit penuh dan tenaga kesehatan kewalahan. Wilayah rimba itu diisolasi. Namun masih ada beberapa yang sempat keluar dari wilayah itu.  Tak seberapa lama, di wilayah lain pun mulai terjangkit wabah serupa. Wilayah itu letaknya agak berdekatan memang. Lalu wabah itu mengenai, bahkan lebih banyak lagi korban yang berjatuhan.  Kemudian semakin hari semakin banyak wilayah yang terpapar penyakit di jagad rimba itu.  Hingga ada suatu wilayah yang pemangku adat dan pimpinan wilayahnya anteng saja. Katanya wabah itu jauh di sono, nggak akan sampai ke wilayah kita. Begitu mereka selalu bilang. Ditambah lagi, penduduk wilayah kita tahan penyakit, lha wong segala rupa dimakan dan tah...

Sejarah Belum Berakhir

Sepengal kalimat pendek sahabatku ini sungguh menginspirasiku.  "......sejarah kita belum usai. " Kalimat pendek ini setidaknya sedikit membuatku tidak reaktif menanggapi atau mengomentari sebuah peristiwa atau kejadian terutama yang sedang viral.  Apalagi, beberapa pengalaman hidup mengajarkan bahwa, selagi hayat kita belum berakhir, sejarah masih kita ukir. Seperti apa akhir sejarah hidup kita. Sungguh tak satupun yang tahu.  Selagi kita masih mengumpulkan kepingan-kepingan sejarah kita, Berhati-hatilah dalam mengomentari sejarah orang lain. Berhati-hatilah dalam bersikap. Bisa jadi seseorang yang dimasa lalunya punya sejarah kelam, pada akhirnya mengukir sejarah gilang gemilang, pun sebaliknya.  Dulu, disaat Ibu - Bapakku masih hidup dalam kesusahan, Allah menguji dengan meninggalnya simbah kakung. Lalu Bapak pergi ke tetangga yang mempunyai toko kelontong terlengkap salah satunya juga menyediakan perlengkapan fard...

Welcome Nunukan

Dan hari itu tiba, tepatnya tanggal 3 Agustus 2018. dengan pesawat Lion Air kita akan terbang dari bandara Aji Sulaiman Sepinggan Balikpapan menuju Juwata Tarakan di pukul 10.30 Wita lalu menuju Nunukan menyusul Abi yang terlebih dahulu tinggal ada disana. Meski yang akan disusul sedang tidak ada ditempat karena ada diklat di Jakarta. Dari sebelum subuh kami sudah bersiap. Rasanya seperti tidak selesai - selesai bersimpun ini, masih ada saja yang terlewat. Padahal kami sudah berusaha seminimal mungkin membawa barang dari Balikpapan. Setalah subuh sarapan sudah siap. Tante, art kami yang sudah puluhan tahun membersamai kami yang menyiapkan semua. Tante ini sudah seperti keluarga bagi kami. Huuu jadi melo harus meninggalkan tante, tapi dibawa juga nggak mungkin karena beliau punya keluarga. Tetangga sebelah rumah yang dindingnya jadi satu dengan dinding rumah kami sudah menyimpan 2 mobilnya untuk mengantar kami. Keluarga Bude Pakde ini pun sudah selayaknya keluarga kami sendiri. T...

Garam Gunung Krayan

Garam gunung yang sudah mengandung zat yodium, dan warnanya tidak terlalu putih (foto : koleksi pribadi)  Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa asam digunung dan garam dilaut akhirnya bertemu jua di belanga dalam bentuk sayur asem, kalau di Nunukan sebuah kabupaten di propinsi Kalimantan Utara akan ada pepatah lain: garam di gunung dan asam di gunung bertemu di belanga. Karena disini ada garam gunung. Orang ramai menyebutnya garam Gunung Krayan. Garam Gunung Krayan adalah garam yang dihasilkan dari air yang ada disumur - sumur seputaran daerah pengunungan Krayan. Sumur - sumur itu mempunyai air yang asin sejak dahulu kala. Air sumur yang berasa asin itu juga ditemukan secara tidak sengaja oleh suku Dayak Lundayah, suku asli Kalimantan yang tinggal di sekitar Gunung Krayan. Konon, suku Lundayah ini sedang berburu di hutan dan membidik seekor burung punai. Lalu burung ini jatuh di sebuah sumur, ketika berhasil diangkat dan dibakar, setelah matang berasa asin. Nah dari situ...

Beda Itu Biasa

Pernah naik pesawat kan,  Atau setidaknya berada di ketinggian lah. Apa yang bisa kita lihat, semakin tinggi tempat kita berpijak , semakin banyak yang bisa kita lihat  Dulu saya pernah ditawari mengajar di sebuah lembaga pendidikan. Karena komunitasnya sama, saya tidak ingin bergabung. Yang terlintas dipikiran saat itu wawasan kita ya itu-itu saja. Homogen Hingga akhirnya terdampar di sebuah lembaga yang lain. Mengalami berbagai pemilihan-pemilihan dengan pilihan yang beda. Dari diskusi kecil hingga debat. Selesai yang biasa saja. Rukun dan damai seperti sedia kala Yang paling seru waktu pilihan walikota di kota kami, beda pilihan itu biasa. Bahkan kadang kita diskusi seru plus minusnya masing - masing jagoan. Nah pas jagoanku kalah... Sudah pasti dag dig dug dong.  Aduh besok gimana ya..bakalan dibully nih Habis sendirian , dan mayoritas pilihan teman-teman pasangan yang beda denganku.  Maka pagi itu , dikuat-kuatkan datang ke sekolah....

Duhai Hati

Duhai hati Sampai kapan rasa kan menepi Hingga terus menjadi muara iri Seperti diinkari Namun sejatinya tetap terpatri Terlalu sulitkan untuk melepaskan pergi Duhai hati Tak sadarkah diri, darimu lisan ini terus berbunyi Mengosip Menghibah Mencela Memaki Duhai hati, Yang hanya segumpal daging Menjadi baik atau buruk hanya itu pilihanmu Karena baiknya, akan membawa keselamatanmu Sedangkan buruknya akan merusakmu

Jika Aku dan Dia Beda

Kejadian seperti ini beberapa kali terjadi.  Sudah ngomong banyak banget. Panjang kali lebar. Lalu bertanyalah kepada lawan bicara, si anak laki-laki.  "Adek dengar kan kata Bunda?" Jawabannya, "Enggak," dengan mukanya lempeng.  Dengan suami lain lagi kisahnya.  Sudah ngobrol panjang lebar, cerita kejadian dari A sampai Z.  Lalu dengan santuynya dia bertanya: "Jadi kesimpulannya apa Bun?" Padahal  Terlihatnya mendengarkan, sepertinya menyimak.  Tapi begitulah otak laki-laki. Hanya fokus pada satu hal.  Mempunyai dua adik laki-laki setidaknya melatih memahami bahwa laki-laki itu prefer to the point, tidak suka berbelit-belit. Begitulah struktur otaknya. Misalnya nih Pernah sms panjang lebar menjelaskan sesuatu ke adik laki-lakiku. Dan jawabannya. Jawaban yang singkat dan padat "ya". Di lain waktu, sudah ngomong panjang banget, pun komentarnya singkat "cerewet". ...