Langsung ke konten utama

Postingan

Ke Baitullah

Part 5 Berkah dari Kesalahan Karena keberangkatan umroh kita dari Jakarta, maka kami harus menuju Jakarta sebelum tanggal 23 Januari. Pagi menjelang siang di tanggal 22 Januari sampailah kita di Jakarta dan menuju Bekasi. Kami harus menjumpai Ibu yang telah terlebih dahulu dijemput adik dari Bojonegoro dan dibawa ke rumahnya di Bekasi. Bandara Sepinggan Balikpapan, para minimalis yang akan travelling. Hanya ini barang bawaan kami.  Sebelum sampai di Jakarta kami sudah meminta Adik menunjukkan rute termudah menuju rumahnya. Berdasarkan petunjuknya, kami harus naik bis damri dari Cengkareng ke Terminal Kampung Rambutan lanjut grab atau gocar ke Jati Melati. Tapi begitu di pool damri  Cengkareng, suami membeli tiket ke Bekasi kota. Tak apalah, beliau kan pernah kuliah di Jakarta semoga lebih tahu rute terdekat ke Bekasi. Nge WA adik lagi, menceritakan bahwa kita naik damri ke Bekasi. "Waduh, jauh lagi itu mah. Lewat daerah macet lagi. Karena terminalnya di Bekasi Ti...

Ke Baitullah

Part 4 Perjalanan 5 Hari di 7 Kota Kantor Imigrasi Madiun Sumber : www.goggle.com pict from Andrew Richard Lega rasanya, urusan  paspor ibu selesai. Menunggu tanggal pengambilan 4 hari kerja setelah pembayaran yang jatuh pada tanggal 4 Januari 2018. Namun tantangan belum usai, berikutnya adalah suntik vaksin meningitis. Setelah pasporku jadi, belum sempat vaksin, aku  sudah terbang ke Jawa dengan asumsi nanti setelah urusan Ibu selesai baru kami vaksin. Ternyata tidak seperti yang diperkirakan, urusan dokumen Ibu molor hingga awal Januari. Jika menunggu sampai paspor ibu jadi, lalu mengantar beliau suntik vaksin meningitis tidak terkejar target waktu vaksinku dan suami.  Pak suami memintaku untuk pulang ke Balikpapan dahulu. Berandai jika membawa dokumenku ke Jawa, masalah vaksin selesai, namun tidak demikian adanya. Baiklah, menurut kata suami saja. Maka tanggal 30 Desember dengan penerbangan sore, aku ...

Ke Baitullah

Part 3 Mengurus Paspor 2 Kantor kependudukan dan catatan sipil yang selama sepekan ku datangi. Sumber:www.goggle.com Sebelum pulang kampung, aku meminta adik yang tinggal di kota terdekat rumah ibuku untuk mempersiapkan dokumen ibu agar aku bisa langsung ke kantor imigrasi keesokan harinya.  Membaca kisah urusan paspor di Jawa membuatku agak ngeper. Di kantor imigrasi Surabaya, misalnya bahkan antrian terjadi sejak dinihari, itupun kalau hari itu kuota habis, bisa besok lagi dan lagi.  Pun ketika meminta informasi pada teman yang pernah berurusan dengan kantor Imigrasi Gresik, sama. Padahal ibuku sudah sepuh dan kesehatannya kurang baik. Membawa orang tua antri seharian di kantor imigrasi saja sudah gamang banget, apalagi jika dari dinihari sementara di kota kami belum ada kantor imigrasi.  Aku memcoba mendaftar online dan dapat di kantor imigrasi Gresik.  Adik mengabarkan bahwa ada kesalahan di tanggal lahir ibu, tidak ...

Ke Baitullah

Part 2. Mengurus Paspor  Setelah bersepakat dengan suami, kami menentukan hari Senin, 4 Desember 2017 ke kantor imigrasi Balikpapan mengurus paspor. Suami izin dan aku sedang kosong tidak mengawas ujian. Deg..deg an juga sih, karena pertama kali dan konon khabarnya urusan keimigrasian ini agak ruwet serta membutuhkan kesabaran. Googling dan mengumpulkan informasi sebanyak - banyaknya tatacara pengurusan pasphor, lalu mendapatkan informasi pendaftaran online. Yeeeaa, dicobalah.  Kami mempersiapkan dokumen yang dipersyaratkan antara lain: KTP, wajib ada dan sudah berupa e-ktp atau kalau belum ada bisa minta surat keterangan pengurusan e-ktp. Asli dan fotocopynya Kartu keluarga, ini juga wajib ada yang asli dan fotocopynya Akta kelahiran, meski tidak wajib, sebaiknya disiapkan buat jaga-jaga jika petugas mencocokkan nama dan nama orang tua.  Ijazah, jika tidak ada akta kelahiran bisa membawa ijazah. Ijazah apa saja boleh, sebaiknya yang sma saj...

Ke Baitullah

#Part.1 Mengenang perjalanan yang spesial tepat 2 tahun yang lalu. ----- Sore itu kami ngobrol santai, suami bercerita tentang tawaran umroh dari pemilik tanah wakaf di yayasan kami. Umrohnya bulan depan, dengan biaya 23 juta rupiah per orang dan boleh dibayar menjelang keberangkatan. Saat itu bulan Oktober tanggal pertengahan. Kalaupun jadi diambil, awal November kami baru bisa  membayar setelah gajian dan insentif suami keluar. Entah mengapa perasaan kami datar saja. Pengen sih, tapi tidak terlalu mengebu. Lagian dananya belum mencukupi, kata suami akan ada insentif yang cair. Tapi kan sebelum masuk rekening, masih belum pasti. Akhirnya pembicaraan itu berlalu sekedarnya saja. Saat masuk bulan Desember 2017 di grup walisantri ada tawaran umroh, untuk internal santri dan walisantri dapat potongan hingga hanya membayar 21 juta saja per orang. Tiba-tiba suami menawarkan lagi untuk umroh dan membersamai ibu sekalian. Tapi, rasa ragu mengelayuti hatiku... Apakah ini sa...

Pelajaran Sederhana dari Orang Sederhana

Di pasar tadi pagi. "Daun singkong berapa seikat Bu? " tanyaku "Lima ribu dua ikat. " jawab ibu tua penjual. Tak banyak yang dijual, hanya beberapa ikat daun singkong, kancang panjang dan sesisir pisang. Kulihat ada juga daun singkong di lapak besar, tapi aku sengaja membeli sayuran di lapak-lapak sederhana yang isi dagangannya tidak banyak, apalagi jika penjualnya sudah agak tua. Menurutku mereka benar-benar berjualan untuk makan sehari-hari, dan tidak banyak untung yang didapatnya. "Baik Bu, saya ambil 1 ikat saja, karena tidak masak banyak, dirumah kami hanya tinggal 3 orang saja, berapa kalau 1 ikat?" "Seikat 3 ribu." Kuangsurkan uang senilai 4 ribu rupiah, karena disini uang seribuan agak susah dijumpai. Andaipun nanti tidak ada kembaliannya, susah ku ikhlaskan saja seikat daun singkong itu seharga 4 ribu rupiah. Kulihat, ibu penjual itu menyiapkan kembalian. Maka sambil menunggunya, kulihat sesisir pisang raja yang ranum dan berapa ...

Rezekiku Tak Kan Tertukar

Di Jum'at siang yang terik tadi, seseorang meluncur dari pusat kota Nunukan ke arah Sedadap yang jaraknya berkisar 17 km mengunakan kendaraan umum berupa angkutan kota (angkot). Sopir angkot ini anak muda berkisar 20 an tahun, sedangkan penumpang angkot itu hanya 3 orang. Saat sampai di jalanan lurus kira-kira 11 km dari pusat kota, maklum jalan di kota ini berkelok-kelok meski bukan pegunungan, terlihat di depan beberapa angkot berhenti sejenak lalu pergi lagi meninggalkan calon penumpang, seorang Ibu dengan 3 orang anak. Akhirnya, angkot dengan 3 penumpang tadi sampai di tempat si Ibu tadi dan berhenti. "Apakah lewat Jalan Baru? " tanya si Ibu "Iya Bu, " jawab si sopir angkot. Alih-alih segera naik, si Ibu itu tetap diam mematung. "Ada apa Bu? " tanya sopir angkot lagi. Ragu si Ibu itu menjawab, "Tapi saya tidak punya uang buat membayar ongkos saya dan 3 anak saya ini, " jawab Ibu itu akhirnya. "Ayolah Bu, tak mengapa. N...